Senin, 13 April 2009

Pimpinan Redaksi Lapmi Al-ushuliyah : Mahbub Ghazy
Sekteraris Umum : Aspra Dhani
Bendahara Umum : Nur Hidayat / Diaz
Layoter : Nurul Ardiansyah

Selasa, 07 April 2009

opini

Meningkatkan Kreativitas dan Meminimalisir
Gaya Hidup Konsumtif

Oleh: D. Firmansyah*
Perkembangan zaman bukanlah suatu hal yang harus menghilangkan tradisi yang sudah ”membumi” di masyarakat. Kemajuan merupakan hasil kreativitas manusia sebagai makhluk berpikir dan bertindak dalam mengembangkan potensi yang di miliki. Hasil dari kreativitas juga harus dapat menjaga tradisi yang ada sebelumnya, karena merupakan hasil dari kreativitas para pendahulu kita. Meninggalkan tradisi sebelumnya justru dapat membuat kita kehilangan identitas yang sebenarnya.
Pesatnya perubahan menuntut masyarakat mengubah pola hidup menyesuaikan dengan zaman, yang sering kali berakibat kehilangan jati dirinya sendiri. Hal ini sering kita temui pada masyarakat perkotaan, yang lebih banyak mengikuti perkembangan dan budaya pop. Sehingga identitas yang telah dimiliki menjadi terkikis dan pudar demi menyesuaikan dengan zaman.
Kemajuan sosial ekonomi memang mendatangi negeri ini, ditambah masuknya kebudayaan pop (pop culture) yang notabene didominasi kebudayaan Barat. Kebudayaan pop ditandai dengan industrialisasi barang-barang budaya seperti makanan, pakaian dan kesenian Akan tetapi lebih dari itu, kebudayaan jenis ini membawa masyarakat pada fenomena McWorld.
Budaya pop pada saat ini tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan pun terbawa arus dengan gaya hidup seperti itu. Anak muda sekarang lebih banyak meluangkan waktu kosongnya untuk bersenang-senang daripada menggunakannya untuk belajar. Pertanyaanya, seperti apa nasib bangsa ini bila generasi mudanya sudah tidak peduli lagi terhadap masa depannya sendiri? Menurut penulis, ada beberapa hal yang mendasar agar idenditas kita tidak tergadaikan. Pertama, perlunya refleksi terhadap apa yang telah kita lakukan. Kedua, selalu menambah wawasan, melepaskan diri dari kejumudan berfikir dan bertindak, sehingga tidak terjadi stagnasi dalam berfikir. Ketiga, melandaskan semua tindakan dengan keimanan, sehingga ada kontrol yang bersifat transendental.
Perkembangan teknologi juga sangat mempengaruhi pola hidup masyarakat. Pada saat ini budaya silaturahmi dari rumah ke rumah hampir tak terlihat lagi, karena masyarakat tidak menyadari bahwa gaya hidupnya telah terpengaruhi oleh kapitalisme global, yang saat ini telah banyak menuai kritik karena dampaknya mulai terasa baik sosial, ekonomi dan psikologis. Masyarakat saat ini lebih banyak bergaya hidup konsumtif daripada meningkatkan kreativitas yang dimiliki. Mudahnya berkomunikasi melalui ponsel merupakan penyebab hilangnya budaya silaturahmi di masyarakat. Kita hanya duduk di rumah dengan memegang ponsel sudah bisa berkomunikasi dengan seseorang yang jauh sekalipun. Kita harus sadar tidak semua kemajuan itu akan berdampak positif, malah dampak negatifnya lebih besar bila kita mau menyadari hal itu. Gejala seperti inilah yang memerlukan suatu rekayasa kesadaran secara kolektif, sehingga tindakan yang kita lakukan dapat dikontrol bersama.
Kita harus cerdas membaca realitas, kerena kemajuan akan terus berkembang kalau kita hanya menjadi konsumen, maka kretivitas yang kita miliki akan stagnan. Dan kita menjalani hidup dalam ketergantugan pada orang lain. Kalau sudah demikian, kemerdekaan manusia (yang dimiliki setiap individu dirampas oleh orang lain, kita hanya dijadikan budak yang bergantung kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

* Penulis Adalah Anggota Matrik Jogja,
Mahasiswa Jurusan Tafsir dan Hadis Semester VI,
Kabid PA HMI Kom.Ushuluddin, e-mail:
aku2726@yahoo.com

beria antar kita

Korkom Baru Semangat Baru
Pada tanggal 28 Januari 2009 lalu, tepatnya pada hari kamis pukul 19: 00 WIB HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga mengadakan acara Syukuran sekretariat baru. Dalam acara ini, HMI Korkom UIN selain mengundang seluruh anggota HMI Cabang Yogyakarta, juga mengundang ketua RT setempat. Dalam acara ini, Ketua Umum HMI Korkom UIN memberikan orasi ilmiah yang cukup visioner bagi keberlangsungan organisasi ini kedepan, beliau mengatakan bahwa HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga diperjalanan yang akan datang akan lebih mengintegrasikan diri pada masyarakat sekitarnya. Selain itu beliau juga menegaskan bahwa, paradigma yang diterapkan oleh kampus UIN Sunan Kalijaga (Integrasi-Interkoneksi) masih perlu disempurnakan, agar lebih memihak terhadap masyarakat kelas bawah. Berikut ini cuplikan orasi ilmiah ketua umum HMI Korkom UIN:
Kawan-kawanku sekalian yang berbahagia, sudah saatnya bagi HMI Korkom UIN Sunan Kalijaga untuk merapatkan kembali barisannya pada masyarakat sekitarnya. Karena organisasi ini dibentuk guna membebaskan rakyat Indonesia dari segala bentuk penindasan, baik fisik maupun mental……kawan-kawanku sekalian, paradigma Integrasi-Interkoneksi yang kini dipakai oleh kampus UIN Sunan Kalijaga masih memerlukan penyempurnaan, baik ditataran konsep maupun implementasinya. Dalam tataran konsep, paradigma ini masih memiliki kekurangan diwilayah tiga unsur utamanya, yaitu hadlarah al-nash, hadlarah al-ilm.

Sekolah Alternatif
Pada tanggal 08 Pebruari ’09 HMI Cabang Yogyakarta memulai kegiatan mingguannya yang bertemapat di Gedung Amal Insani (GAI). Kegiatan ini di adakan guna mempersiapkan kader HMI untuk tampil sebagai pemateri, dosen, agamawan yang siap tampil di ranah publik. Kegiatan ini rutin setiap minggu pagi, bertempat di setiap Komisariat atau kampus.
Sekolah ini terbuka bagi setiap Kader HMI se-Yogyakarta.

iklan buku

Miliki Segera Buku-buku HMI Karya Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul
Harga Spesial Buat Anggota dan Alumni Hmi Di Mana Saja Berada.

Judul buku Harga
1. Sejarah Perjuangan HMI (1947-1975) Rp.50.000.00
2. HMI dalam Pandangan Seorang Pendeta Antara
Antara Impian dan Kenyataan Rp. 60.000.00
3. Histiografi HMI (1947-1997) Rp. 60.000.00
4. Pemikiran HMI dan Relevansinya
Dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia Rp. 60.000.00
5. Citra HMI Rp. 15.000.00
6. Kohati Dalam Sejarah (1966-1984) Rp. 40.000.00
7. 44 Indikator Kemunduran HMI, Suatu Kritik
dan Koreksi untuk Kebangkitan Kembali HMI Rp. 40.000.00
8. HMI Mengayuh diantara Cita dan Kritik Rp. 75.000.00
9. Menyatu dengan Ummat Menyatu dengan Bangsa
Pemikiran Keislaman Keindonesiaan Rp.70.000.00
10.Usaha-Usaha Mendirikan Negara Islam
Dan pelaksanaan Syariat Islam di Indonesia Rp.70.000.00
Total Rp. 540.000.00
Catatan :
1.Jika membeli 1 paket (10 buah), harganya Rp.500.000.00
2. Jika beli dan di kiri m di tambah ongkos kirim,minimal Rp.75.000.00
3. Alamat Prof.Dr.H.Agus Salim Sitompul
Griya Sakinah, JL. Pangajapsih No.5 RT 01 RW 08 Sukoharjo, Sanggaran Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta, 55283
HP : 08157936652. Rumah: (0274) 44 63 404
4. Rekening a.n. Agussalim Sitompul Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Katamso No Rekening : 137-009 201 3511 atau Bank Syariah Mandiri Cabang Kantor Kas Ambarukmo Nomor Rekening : 167 7019 356

ucapan selamat

Selamat Atas Diwisudanya

1. M. Gofar, S.Th.I
2. Hima Kurnia, S.Sos
3. Khairul Anam, S.Sos
4. Sya’roni, S.Sos
5. Fadil, S. Fil.I
6. Nawawi, S.Th.i




Selamat atas Terpilihnya Kanda
Azkiya’ Khoirul Anam
Sebagai Ketua IKAPMAWI Cabang Yogyakarta

FATWA ROKOK YANG TIDAK TEGAS

FATWA ROKOK YANG TIDAK TEGAS

Jamal Ma’mur Asmani
( Peneliti Cepdes ( Centre For Pesantren And Democracy Studies).

Hasil sidang Pleno Ijtima’ Ulama Komisi fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia yang ketiga di aula Perguruan Diniyah Puteri, Kota Padang Panjang, pada 25 Januari 2009 akhirnya memilih hukum makruh untuk merokok. Yang diharamkan merokok hanya anak-anak, remaja, wanita hamil, dan merokok di tempat umum. Untuk memberikan keteladanan kepada masyarakat, semua jajaran pengurus MUI di haramkan merokok dan apabila merokok akan diberi sanksi organisasi. Fatwa MUI ini merupakan set-back. Fatwa MUI tidak efektif dijadikan gerakan preventif bagi sosialisasi bahaya merokok.
Memang berat menghukumi haram pada perbuatan merokok, karena efek sosial ekonominya sangat besar. Akan terjadi pengangguran besar-besaran seandainya pabrik rokok di negeri ini ditutup, dan angka kasus kriminal akan meningkat karena faktor ekonomi ini. Namun, fatwanya akan sulit menghapus tradisi merokok di negeri ini. Fatwa MUI di atas membuka peluang besar kepada perokok untuk tetap melakukan kebiasaan merokok walaupun telah diberikan penjelasan bahwa merokok bisa mengakibatkan berbagai penyakit yang membahayakan. MUI memfatwakan hukum haram atas perbuatan merokok itu, suatu kemajuan besar sebuah indikasi besar di dalam menhukumi masalah sosial yang cukup meresahkan minimal denga hukum haram merokok orang akan berfikir “dosa“ kalau melakukannya. Kalau fatwa MUI di rancang untuk mencegah kerusakan khususnya dalam aspek kesehatan akibat merokok huum haram adalah pilihan yang tepat.
Kebanyakan perokok khususnya mereka yang kecanduan merokok akan menghentikan aktivitas merokoknya kalau sudah mendapat peringatan dari dokter misalnya kalau masih merokok penyakitnya akan semakin ganas sulit tertolong dan alasan medis lainnya, agama Islam sebetulya menghukumi merokok dengan status makruh tapi kalo membahayakan kesehatan hukumnya haram menggunakan uang untuk mebeli rokok termasuk perbuatan “Mubadzzir” menyiakan-nyiakan atau menghamburkan harta di mana orang yag melakukannya harus di hijr ( di tahan uangnya) ( Syekh Ibrahim Albajuri Alam Hasyiyah Al-Bajuri,Darul Fikri Juz 1 hlm. 366)
Manusia adalah mahluk yang suci maka manusia harus menghindari mengkomsumsi hal-hal yang membahayakan akal dan badannya sperti benda-benda padat tumbuha-tumbuhan yang membahyakan an semua hal yang membahayakan mislanya formalin,zat narkotik dan sejenisnya (Abdurahman Al-Juzairi Al-Fiqhu Ala Madzahib Al-Arba’ah Darul Fikri Juz 1 hlm 13 )
Apakah merkok membahyakan atau tidak itu bukan wewenang ahli agama,keterangan ahli medis sangat menentukan sehingga kalu ahli medis menytakan bahwa merokok membahayakan kesehatan karena bisa menimulkan penyakit jantung dan lain-lain,hukum merokok haram.dan sepertinya tidak ada di dunia ini ,dkter menngatakan bahwa meroko itu sesuatu itu yang tidak berbahaya karena itu dalam smpul rokok,pasti ada peringatana bhwa merokok bisa menyebabkan penyakit kanker,jantung dan gugurnya kehamilan dan janin.
Menurut Dr. Ir. M.Romli M.sc (2006) pengaruh rokok terhadap kesehatan telah di perkirakan sejak awal abad ke 17 (Encyclopedia Americana Smoking And Health, hlm 70, 1989). Namun rupanya perlu waktu 350 tahun untuk mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang cukup umtuk meyakinkan dugaan dugaan itu, kanaikan kematian akibat kanker paru-paru yang di amati pada awl abad 20-an telah menggelitik di mulainya enelitian–penelitian ilmiah tentang hubungan antara merokok dan kesehatan sejalan dengan peningkata pesat penggunaan tembakau, penelitia pun lebih di kembangkan khususnya pada 1950-an dan 1960-an
Laporan penting tentang akibat merokok terhadap kesehatan di keluarkan oleh the surgeon general’s Advisory committee on smoking and health di Amerika Serikat pada 1964. Dua tahun sebelumnya,the royal college of pysycian of London di inggris telah pula mengeluarkan suat laporan peneitian penting yang mengungkapkan bahwa merokok menyebabkan penyakit kanker, paru-paru, bronkritis, da berbagai penyakit lainnya. Hingga 1985 sudah lebih dari 30 ribu makalah tentag rokok dan kesehatan di pubikasikan. Sekarang tampa ada keraguan sedikitpun di simpulkan bahwa merokok menyebabakan kanker paru-paru baik pada laki-laki maupun wanita.di ketahui juga bahwa kankaer paru-paru adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada manusia merokok juga di hubungkan dengan kanker mulut,tenggorokan pancernaan, ginjal dan lain-lain
Nabi Muhammad adalah teladan ummat Islam seluruh dunia, dalam catatan sejarah Islam di sebutkan bahwa selama hidupnya beliau hanya pernah sakit sebanyak dua kali, yaitu di usia 30-an menjelang wafatnya, itupun hanya berlangsung sebentar dan serta hampir tidak merepotkan masyarakat ,kemampuan Rasuluulah menjaga kesehatannya hingga hanya dua kali mengalami sakit sepanjang hayatnya adalah sebuah catatan sejarah dan prestasi yang luar biasa. Itu merupakan prestasi pengendalian kesehatan yang langka. banyak tokoh dunia seperti Napoleon Bonaparte dan Von Goethe yang kagum kepada kemampuan Nabi Muhammad saw. menjaga kesehatan dengan mencontoh pula hidup sehat ala Nabi. Meninggalkan perbuatan merokok adalah salah satu cara agar hidup ini bisa berjalan dengan menyenangkan dan penuh prestasi dari bahaya penyakit yang mengancam jiwa.

Islam dan Semangat Perubahan

Islam dan Semangat Perubahan
dedy.

Dari dulu hingga kini, hari tidak henti-hentinya tinta untuk mengukirka titanya di atas kertas sehingga menjad pembicaraan dan pembahasan orang, baik di media massa maupun dalam pembicaraan sehari-hari seiring dengan ini sekan-akn timbul pertanyan bagi kita serang pemuda yang kritis akan ke intelektualan kita.
Sebenarnya tapa kita sadari bahwa kitalah penaggung jawab bagi bangsa dan Negara kita, jadi ambil kesimpulan dari untaian dari keterangan di atas bahwa kitalah pewaris masa depan bangsa dan agama kitalah bangsa dan agama kitalah pejauang bagsa dan agama yang akan memperjuangka bagsa dan agama dari penindasan-enindasan yang tak henti-hentinya.
Tapi ingat temen-temenku sekalian,bukanlah mudah dan ringan untuk memperjuangkan bangsa kita ke pintu gerbang pembebasan dari penindasan terhadap nenek-nenek moyang kita hingga saat ini jika ingin semua itu kita raih maka kita perjuangkan dulu diri kita dari pengekangan –pengekangan dan penidasan penindasan kecil.sehngga tampa kita sadari sedkit demi sedikit diri kita tertindas
Misalnya saya di lingkungan kita tidak terbudayakan membaca suasana kampus yang monoton ,peraturan yang tidak relefan dengan itu semua aka memyebabakan orang-orang yang ada di dunia pendidikan akan senang melakukan di luar pendidikan,kalaulah seperti ini jadinya maka tidak akan pernah menginjakka kaki kita dari penderitan menuju perubahan yang gemilang
Tapi jagan kwatir teman-teman seperjuanganku,bukanlah allah berfirman dalam alquran “ tidak kan ku ubah naib suatu kaum kecuali diri mereka sendiri yang merubah” dari ayat di atas bahwa allah tidak akan pernah mendengarkan da merubah hamba-hambnya yang tahunya hanya meminta –minta da meminta ( do’a) kepadanya tampa ada usaha artimya apabila kita ingin perubahan maka kitalah yang merubahnya sendiri khususnya bagi bangs kita dan diri kita.
Makanya denga itu saya agak cemas dengan keadaan di kampus-kampus kita makanya saya mengatakan di atas tadi peratuan yang tidk relefan dengan ,mengapa saya mengatakan demikian,seakan-akan kita di timbulka dan di didik di kampus-kampus kita menjadi orang yang egois orang yang tidak peduli terhadap terjadinya peristiwa di sekelilngnya jadi buat apa ilmu-ilmu yang kita dapatkan dari dosen-dosen kita namun kita tidak tahu kemana apakah untuk dii kita.
Kader HMI fakultas ushuludin

Islam dan Semangat Perubahan

Islam dan Semangat Perubahan
dedy.

Dari dulu hingga kini, hari tidak henti-hentinya tinta untuk mengukirka titanya di atas kertas sehingga menjad pembicaraan dan pembahasan orang, baik di media massa maupun dalam pembicaraan sehari-hari seiring dengan ini sekan-akn timbul pertanyan bagi kita serang pemuda yang kritis akan ke intelektualan kita.
Sebenarnya tapa kita sadari bahwa kitalah penaggung jawab bagi bangsa dan Negara kita, jadi ambil kesimpulan dari untaian dari keterangan di atas bahwa kitalah pewaris masa depan bangsa dan agama kitalah bangsa dan agama kitalah pejauang bagsa dan agama yang akan memperjuangka bagsa dan agama dari penindasan-enindasan yang tak henti-hentinya.
Tapi ingat temen-temenku sekalian,bukanlah mudah dan ringan untuk memperjuangkan bangsa kita ke pintu gerbang pembebasan dari penindasan terhadap nenek-nenek moyang kita hingga saat ini jika ingin semua itu kita raih maka kita perjuangkan dulu diri kita dari pengekangan –pengekangan dan penidasan penindasan kecil.sehngga tampa kita sadari sedkit demi sedikit diri kita tertindas
Misalnya saya di lingkungan kita tidak terbudayakan membaca suasana kampus yang monoton ,peraturan yang tidak relefan dengan itu semua aka memyebabakan orang-orang yang ada di dunia pendidikan akan senang melakukan di luar pendidikan,kalaulah seperti ini jadinya maka tidak akan pernah menginjakka kaki kita dari penderitan menuju perubahan yang gemilang
Tapi jagan kwatir teman-teman seperjuanganku,bukanlah allah berfirman dalam alquran “ tidak kan ku ubah naib suatu kaum kecuali diri mereka sendiri yang merubah” dari ayat di atas bahwa allah tidak akan pernah mendengarkan da merubah hamba-hambnya yang tahunya hanya meminta –minta da meminta ( do’a) kepadanya tampa ada usaha artimya apabila kita ingin perubahan maka kitalah yang merubahnya sendiri khususnya bagi bangs kita dan diri kita.
Makanya denga itu saya agak cemas dengan keadaan di kampus-kampus kita makanya saya mengatakan di atas tadi peratuan yang tidk relefan dengan ,mengapa saya mengatakan demikian,seakan-akan kita di timbulka dan di didik di kampus-kampus kita menjadi orang yang egois orang yang tidak peduli terhadap terjadinya peristiwa di sekelilngnya jadi buat apa ilmu-ilmu yang kita dapatkan dari dosen-dosen kita namun kita tidak tahu kemana apakah untuk dii kita.
Kader HMI fakultas ushuludin
Islam, Negara dan Pendidikan Untuk Umat

Oleh: Nurul Ardiansyah
Pendidikan dunia Islam
Forum Ekonomi Islam Dunia (WIFE) ke-V yang berlangsung di Jakarta menghasilkan kesepakatan antar negara Islam. Dari beberapa kesepakatan yang dihasilkan, salah satunya adalah gagasan mengenai perlunya diadakannya pengembangan di dalam dunia pendidikan. Hal ini berangkat dari asumsi dasar mengenai pentingnya pendidikan yang bermutu sebagai penopang sekaligus unsur utama pembentuk peradaban yang utama. Secara fakta, dunia Islam dapat dikatakan masih tertinggal jika dibandingkan negara maju di dunia Barat. Ketertingalan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Namun kita tidak akan membahas terlalu jauh mengenai berbagai faktor penyebab kemunduran tersebut. Dalam pembahasan kali ini kita akan lebih terfokus kepada pembahasan mengenai pentingnya adanya sebuah konsep pendidikan berkualitas yang secara nyata diaktualisasikan oleh tidak hanya kalangan Islam saja secara umum, namun juga bangsa Indonesia khususnya, yang sebagian masyarakatnya memeluk Islam.
Tujuan pendidikan
Sedikit kita akan menoleh ke belakang. Mengingat kembali kebutuhan umat Islam terhadap pentingnya pendidikan, sekaligus hal itulah yang menjadi rumusan tujuan pendidikan baik secara umum, terlebih, umat Islam khususnya. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, yang dimuat dalam tulisannya, kitab “Mukaddimah”, manusia dibedakan dengan hewan, maupun makhluk yang lainnya, adalah melalui karunia akal. Melalui karunia akal tersebut manusia berfikir. Kegiatan berfikir yang dilakukan oleh manusia dilakukan tanpa henti sebagai sebuah proses pencarian secara terus-menerus terhadap sesuatu. Kumpulan dari hasil pencarian tersebut tersistematisasikan dan menghasilkan seperangkat pengetahuan. Proses panjang sehingga didapatkannya seperangkat pengetahuan yang tersistematisasikan tersebut, itulah proses dari pendidikan. Di dalam proses tersebut harus dipahami juga sebagai proses yang bertahap. Dengan demikian, secara sederhana pendidikan dapat dipahami sebagai sebuah proses secara bertahap yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai sesuatu dengan benar. Kurang lebih seperti itu tujuan pendidikan.
Upaya Indonesia Mencerdaskan Bangsa
                        
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam]. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Melalui ayat itulah secara umum digambarkan dengan jelas pendidikan dalam pandangan Al-Qur’an (atau dapat disebut, dalam pandangan Islam). Selanjutnya, bagaimana pendidikan mencoba untuk diinterpretasikan melalui cara dan perspektif yang berbeda dari setiap insan. Bangsa Indonesia terlebih dahulu perlu memandang dari segi demokrasi untuk menilai pendidikan di Indonesia. Mengapa? Tentu saja sesuai dengan kutipan surah di atas, dimana setiap insan dituntut dan memiliki tanggung jawab untuk “belajar”. Sesuai dengan amanah Undang-undang Dasar 45 (UUD 45) pasal 31, bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran (pendidikan yang layak), hal tersebut perlu kita analisis. Kenyataan sekarang, tidaklah semua warga Negara Indonesia mendapatkan pendidikan. Mereka terjebak dalam jurang ekonomi lemah yang menghambat dalam mengakses pendidikan. Pada dasarnya, atau bahkan sebenarnya, mereka sangat ingin memperoleh pendidikan yang layak. Namun untuk makan saja, mereka (yang mayoritas hidup di jalanan, misalnya) harus berjuang, bertarung di jalanan, untuk sekedar mendapatkan sedikit fulus demi keberlangsungan untuk dapat bertahan hidup. Seharusnya peran pemerintah lebih nyata dalam mengatasi persoalan demikian. Bangsa ini memiliki SDM yang cukup banyak, namun minim kualitas. Itulah persoalannya. Dengan peran pemerintah secara maksimal, di harapkan mampu meningkatkan kualitas SDM tersebut. Sebagai contoh misalnya, pemerintah bisa saja memberlakukan kebijakan free school for all, yaitu sekolah non formal yang gratis dalam pelayanannya kepada masyarakat miskin yang kurang beruntung selama ini. Free school for all dimaksudkan agar mampu menyerap sebanyak-banyaknya warga yang ingin mendapatkan pendidikan dalam segala hal.
Harapan Selanjutnya
Warga yang nantinya telah mendapatkan pendidikan tersebut diharapkan mengalami peningkatan baik secara intelektual (pengetahuan dan wawasan) maupun moralnya. Hal ini demi peningkatan juga kualitas keimanannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, diharapkan masyarakat juga mampu mengaplikasikan ilmu yang telah dicerapnya. Misalnya, ilmu tersebut dapat digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan. Dengan bekerja, dapat menunjukkan bahwa Negara itu kreatif dan produktif. Dengan produktif Negara kita akan bertambah kuat secara ekonomi. Efek pada wilayah ekonomi tersebut tentu pada akhirnya nanti akan berimplikasi terhadap perbaikan kondisi perekonomian Negara. Marilah kita semua berusaha dan berdoa agar semua elemen warga Negara berperan penuh dalam peningkatan kualitas pendidikan bangsa ini, bangsa yang sedang terpuruk, bangsa yang menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik dan mapan (civil society). Dengan keyakin dan usaha, maka kita sampai..
“we can achieve the goal of education”


*Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jurusan Pendidikan Fisika semester II
Ketua EASY dan Staf Redaksi LAPMI AL-Ushuliyah.

Cinta Sebagai Mata Air Peradaban

Cinta Sebagai Mata Air Peradaban
Oleh Mahbub Ghazy*
“Jika cinta pudar, semesta akan ganas”. Kalimat tersebut ditorehkan sufi kenamaan Jalaluddin Rumi (1207-1393) dalam magnum opus-nya Matsnawi. Cinta bagi Rumi merupakan ruh peradaban, sumbu kebudayaan yang akan menyulut terkobarnya pesan abadi Tuhan, terjelmanya persaudaraan universal di kalangan umat manusia (Q.S. 49:13) yang humanis, damai, ramah dan santun (Q.S. 21:107).
Cinta ala Rumi pada hakikatnya merupakan ajaran inti setiap nabi, substansi dari agama, esensi dari iman. Tidak ada satu dogma pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, melegalkan kekerasan, mengabsahkan tindakan keji dan munkar.
Dalam ajaran Islam, misalnya, ditanamkan bahwa cinta sesama makhluk merupakan manifestasi cinta kepada Allah, seperti tersirat dalam hadis, “Cintailah semua yang ada di bumi, engkau akan dicintai oleh yang ada di langit” atau “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Ketika pemuka sufi Ibn Arabi ditanya ihwal agama yang dianutnya, ia menjawab, “Cinta adalah agamaku; kemana pun binatang penunggangnya menuju, di sanalah agama ditambatkan.”
Dalam riwayat lain tatkala al-Fadhil ibn Yasar bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang dari mana iman datang, beliau menjawab, “Keimanan itu tak lain adalah cinta,” atau dalam redaksi Imam Baqir a.s., “Agama adalah cinta dan cinta ialah agama.”
“Ragukan bahwa bintang-bintang itu api; ragukan bahwa matahari itu bergerak; ragukan bahwa kebenaran itu dusta; tapi jangan ragukan makna sebuah cinta,” demikian ajaran penuh kearifan yang ‘difatwakan’ Hamlet kepada Ophelia dalam literer estetisnya William Shakespeare, Hamlet.
Cinta sejati — fitri yang berporos pada nilai-nilai Ilahiah, disebarkan dalam peta bumi kemanusiaan model ini yang pada gilirannya akan membuat Tuhan (rahmat-Nya: hidup damai, tertib, jauh dari kekerasan dan tindakan-tindakan dungu yang mendangkalkan peradaban) semakin mendekat bahkan lebih dekat ketimbang urat leher (Q.S. 50:16), senantiasa menyertai di mana dan ke mana pun kita berada (Q.S. 57: 4), serta Dia akan memberikan solusi dari beragam impitan krisis yang menimpa (Q.S. 2:186).
Atau dalam sebuah hadis qudsi dengan redaksi yang sangat memikat dijanjikan, “Maka bila Aku, telah mencintainya, Akulah telinga yang ia gunakan untuk mendengar, mata yang ia gunakan untuk melihat, lidah yang ia gunakan untuk berbicara, tangan yang memberi kekutan padanya, dan Akulah kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Bila berdoa pada-Ku Aku kabulkan permohonannya, bila meminta dari-Ku Aku kabulkan permintaannya. Aku tidak pernah bimbang dalam menentukan sesuatu seperti kebimbangan-Ku saat kematian mukmin yang menghindar darinya, sedang aku membenci hal itu.”
Jika elemen cinta otentik ini dicampakkan dan atau cakupan maknanya direduksi sebatas pengentalan rajutan cinta antarkelompoknya saja (ras, suku, mazhab, dst.), dan pada saat bersamaan ditanamkan kebencian kepada orang luar (the other) seraya memupuk ideologi “kebencian” dan ‘yang lain’ dianggap sebagai yang keliru, maka pada saat seperti ini cepat atau lambat peradaban manusia akan kiamat, dan kehancurannya yang lebih total tinggal menunggu waktu.
Situasi terakhir seperti inilah yang tempo hari menimpa masyarakat jahiliyah Mekkah. Sehingga kita mafhum, pada saat itu, kekerasan, pertumpahan darah (safakud dima’), teror, pemberangusan terhadap orang yang tidak sehaluan, premanisme, perang, pembunuhan terhadap bayi-bayi yang diidentifikasi berjenis kelamin perempuan menjadi pemandangan sehari-hari.
Situasi primitif ini pula yang pada gilirannya menjadi latar belakang lahirnya seorang Muhammad saw. Ia datang tidak lain, di antara nubuat-nya, untuk meluruskan kembali makna cinta, memperbarui relasi antarmanusia yang kadung telah terkotak-kotak dalam sistem pongah yang diskriminatif, feodalistik, eksploitatif dan jauh dari cita rasa keadaban.
“Aku diutus tidak lain kecuali untuk mereformasi budi pekerti manusia,” sabdanya atau dalam ungkapan Alquran, “Aku tidak mengutus engkau Muhammad kecuali sebagai penebar cinta kasih kepada seru sekalian alam.” (Q.S. 21:107).
Sejarah mencatat, seperti dapat kita lacak dalam perjanjian Madinah, bagaimana Rasulullah mendistribusikan cinta tidak hanya kepada para sahabatnya, namun juga kepada mereka yang berlainan keyakinan bahkan terhadap tumbuh-tumbuhan dan binatang.
Pertanyaan yang patut dijadikan bahan renungan kita bersama adalah, adakah pendulum sejarah mutakhir tengah mengarah kepada peradaban yang berbasiskan cinta di mana satu sama lain insyaf betul akan perannya sebagai khalifatullah dan abdullah yang wajib memakmurkan bumi sesuai dengan kehendak-Nya, bersama-sama berkhidmat memuliakan Tuhan dengan cara menghormati nilai-nilai kemanusiaan, menempatkan alam tidak sebagai objek eksploitasi tapi mitra dalam bertasbih kepada-Nya (Q.S. 24: 41). Atau justru kebalikannya, perahu kehidupan kita sedang berlayar menuju peradaban nircinta, tanpa orientasi spiritual, terlepas dari visi Ilahiah?
Jawaban yang sesungguhnya mengandaikan munculnya kesadaran total akan keniscayaan kita secara berjamaah tanpa melihat latar belakang budaya, suku, daerah atau afiliasi partai politik, untuk tidak pernah letih menggelorakan api cinta yang hakiki itu demi cita-cita yang ditambatkan seluruh umat manusia, tegaknya kehidupan yang lebih berharkat. Jika tidak demikian, maka sekali lagi, sesungguhnya kita tengah menghirup atmosfir peradaban yang dungu dengan segala implikasinya yang negatif dan merusak, dan setelah itu yang tersisa adalah kematian yang sia-sia.
* Pimpinan Redaksi Lapmi Ushuliyah
Mahasiswa semester II Sosiologi Agama

Cinta Sebagai Mata Air Peradaban

Oleh Mahbub Ghazy*

Jika cinta pudar, semesta akan ganas”. Kalimat tersebut ditorehkan sufi kenamaan Jalaluddin Rumi (1207-1393) dalam magnum opus-nya Matsnawi. Cinta bagi Rumi merupakan ruh peradaban, sumbu kebudayaan yang akan menyulut terkobarnya pesan abadi Tuhan, terjelmanya persaudaraan universal di kalangan umat manusia (Q.S. 49:13) yang humanis, damai, ramah dan santun (Q.S. 21:107).

Cinta ala Rumi pada hakikatnya merupakan ajaran inti setiap nabi, substansi dari agama, esensi dari iman. Tidak ada satu dogma pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, melegalkan kekerasan, mengabsahkan tindakan keji dan munkar.

Dalam ajaran Islam, misalnya, ditanamkan bahwa cinta sesama makhluk merupakan manifestasi cinta kepada Allah, seperti tersirat dalam hadis, “Cintailah semua yang ada di bumi, engkau akan dicintai oleh yang ada di langit” atau “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Ketika pemuka sufi Ibn Arabi ditanya ihwal agama yang dianutnya, ia menjawab, “Cinta adalah agamaku; kemana pun binatang penunggangnya menuju, di sanalah agama ditambatkan.”

Dalam riwayat lain tatkala al-Fadhil ibn Yasar bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang dari mana iman datang, beliau menjawab, “Keimanan itu tak lain adalah cinta,” atau dalam redaksi Imam Baqir a.s., “Agama adalah cinta dan cinta ialah agama.”
“Ragukan bahwa bintang-bintang itu api; ragukan bahwa matahari itu bergerak; ragukan bahwa kebenaran itu dusta; tapi jangan ragukan makna sebuah cinta,” demikian ajaran penuh kearifan yang ‘difatwakan’ Hamlet kepada Ophelia dalam literer estetisnya William Shakespeare, Hamlet.

Cinta sejati — fitri yang berporos pada nilai-nilai Ilahiah, disebarkan dalam peta bumi kemanusiaan model ini yang pada gilirannya akan membuat Tuhan (rahmat-Nya: hidup damai, tertib, jauh dari kekerasan dan tindakan-tindakan dungu yang mendangkalkan peradaban) semakin mendekat bahkan lebih dekat ketimbang urat leher (Q.S. 50:16), senantiasa menyertai di mana dan ke mana pun kita berada (Q.S. 57: 4), serta Dia akan memberikan solusi dari beragam impitan krisis yang menimpa (Q.S. 2:186).

Atau dalam sebuah hadis qudsi dengan redaksi yang sangat memikat dijanjikan, “Maka bila Aku, telah mencintainya, Akulah telinga yang ia gunakan untuk mendengar, mata yang ia gunakan untuk melihat, lidah yang ia gunakan untuk berbicara, tangan yang memberi kekutan padanya, dan Akulah kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Bila berdoa pada-Ku Aku kabulkan permohonannya, bila meminta dari-Ku Aku kabulkan permintaannya. Aku tidak pernah bimbang dalam menentukan sesuatu seperti kebimbangan-Ku saat kematian mukmin yang menghindar darinya, sedang aku membenci hal itu.”

Jika elemen cinta otentik ini dicampakkan dan atau cakupan maknanya direduksi sebatas pengentalan rajutan cinta antarkelompoknya saja (ras, suku, mazhab, dst.), dan pada saat bersamaan ditanamkan kebencian kepada orang luar (the other) seraya memupuk ideologi “kebencian” dan ‘yang lain’ dianggap sebagai yang keliru, maka pada saat seperti ini cepat atau lambat peradaban manusia akan kiamat, dan kehancurannya yang lebih total tinggal menunggu waktu.

Situasi terakhir seperti inilah yang tempo hari menimpa masyarakat jahiliyah Mekkah. Sehingga kita mafhum, pada saat itu, kekerasan, pertumpahan darah (safakud dima’), teror, pemberangusan terhadap orang yang tidak sehaluan, premanisme, perang, pembunuhan terhadap bayi-bayi yang diidentifikasi berjenis kelamin perempuan menjadi pemandangan sehari-hari.

Situasi primitif ini pula yang pada gilirannya menjadi latar belakang lahirnya seorang Muhammad saw. Ia datang tidak lain, di antara nubuat-nya, untuk meluruskan kembali makna cinta, memperbarui relasi antarmanusia yang kadung telah terkotak-kotak dalam sistem pongah yang diskriminatif, feodalistik, eksploitatif dan jauh dari cita rasa keadaban.

“Aku diutus tidak lain kecuali untuk mereformasi budi pekerti manusia,” sabdanya atau dalam ungkapan Alquran, “Aku tidak mengutus engkau Muhammad kecuali sebagai penebar cinta kasih kepada seru sekalian alam.” (Q.S. 21:107).

Sejarah mencatat, seperti dapat kita lacak dalam perjanjian Madinah, bagaimana Rasulullah mendistribusikan cinta tidak hanya kepada para sahabatnya, namun juga kepada mereka yang berlainan keyakinan bahkan terhadap tumbuh-tumbuhan dan binatang.

Pertanyaan yang patut dijadikan bahan renungan kita bersama adalah, adakah pendulum sejarah mutakhir tengah mengarah kepada peradaban yang berbasiskan cinta di mana satu sama lain insyaf betul akan perannya sebagai khalifatullah dan abdullah yang wajib memakmurkan bumi sesuai dengan kehendak-Nya, bersama-sama berkhidmat memuliakan Tuhan dengan cara menghormati nilai-nilai kemanusiaan, menempatkan alam tidak sebagai objek eksploitasi tapi mitra dalam bertasbih kepada-Nya (Q.S. 24: 41). Atau justru kebalikannya, perahu kehidupan kita sedang berlayar menuju peradaban nircinta, tanpa orientasi spiritual, terlepas dari visi Ilahiah?

Jawaban yang sesungguhnya mengandaikan munculnya kesadaran total akan keniscayaan kita secara berjamaah tanpa melihat latar belakang budaya, suku, daerah atau afiliasi partai politik, untuk tidak pernah letih menggelorakan api cinta yang hakiki itu demi cita-cita yang ditambatkan seluruh umat manusia, tegaknya kehidupan yang lebih berharkat. Jika tidak demikian, maka sekali lagi, sesungguhnya kita tengah menghirup atmosfir peradaban yang dungu dengan segala implikasinya yang negatif dan merusak, dan setelah itu yang tersisa adalah kematian yang sia-sia.

* Pimpinan Redaksi Lapmi Ushuliyah

Mahasiswa semester II Sosiologi Agama