Selasa, 07 April 2009

Islam, Negara dan Pendidikan Untuk Umat

Oleh: Nurul Ardiansyah
Pendidikan dunia Islam
Forum Ekonomi Islam Dunia (WIFE) ke-V yang berlangsung di Jakarta menghasilkan kesepakatan antar negara Islam. Dari beberapa kesepakatan yang dihasilkan, salah satunya adalah gagasan mengenai perlunya diadakannya pengembangan di dalam dunia pendidikan. Hal ini berangkat dari asumsi dasar mengenai pentingnya pendidikan yang bermutu sebagai penopang sekaligus unsur utama pembentuk peradaban yang utama. Secara fakta, dunia Islam dapat dikatakan masih tertinggal jika dibandingkan negara maju di dunia Barat. Ketertingalan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Namun kita tidak akan membahas terlalu jauh mengenai berbagai faktor penyebab kemunduran tersebut. Dalam pembahasan kali ini kita akan lebih terfokus kepada pembahasan mengenai pentingnya adanya sebuah konsep pendidikan berkualitas yang secara nyata diaktualisasikan oleh tidak hanya kalangan Islam saja secara umum, namun juga bangsa Indonesia khususnya, yang sebagian masyarakatnya memeluk Islam.
Tujuan pendidikan
Sedikit kita akan menoleh ke belakang. Mengingat kembali kebutuhan umat Islam terhadap pentingnya pendidikan, sekaligus hal itulah yang menjadi rumusan tujuan pendidikan baik secara umum, terlebih, umat Islam khususnya. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, yang dimuat dalam tulisannya, kitab “Mukaddimah”, manusia dibedakan dengan hewan, maupun makhluk yang lainnya, adalah melalui karunia akal. Melalui karunia akal tersebut manusia berfikir. Kegiatan berfikir yang dilakukan oleh manusia dilakukan tanpa henti sebagai sebuah proses pencarian secara terus-menerus terhadap sesuatu. Kumpulan dari hasil pencarian tersebut tersistematisasikan dan menghasilkan seperangkat pengetahuan. Proses panjang sehingga didapatkannya seperangkat pengetahuan yang tersistematisasikan tersebut, itulah proses dari pendidikan. Di dalam proses tersebut harus dipahami juga sebagai proses yang bertahap. Dengan demikian, secara sederhana pendidikan dapat dipahami sebagai sebuah proses secara bertahap yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai sesuatu dengan benar. Kurang lebih seperti itu tujuan pendidikan.
Upaya Indonesia Mencerdaskan Bangsa
                        
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam]. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Melalui ayat itulah secara umum digambarkan dengan jelas pendidikan dalam pandangan Al-Qur’an (atau dapat disebut, dalam pandangan Islam). Selanjutnya, bagaimana pendidikan mencoba untuk diinterpretasikan melalui cara dan perspektif yang berbeda dari setiap insan. Bangsa Indonesia terlebih dahulu perlu memandang dari segi demokrasi untuk menilai pendidikan di Indonesia. Mengapa? Tentu saja sesuai dengan kutipan surah di atas, dimana setiap insan dituntut dan memiliki tanggung jawab untuk “belajar”. Sesuai dengan amanah Undang-undang Dasar 45 (UUD 45) pasal 31, bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran (pendidikan yang layak), hal tersebut perlu kita analisis. Kenyataan sekarang, tidaklah semua warga Negara Indonesia mendapatkan pendidikan. Mereka terjebak dalam jurang ekonomi lemah yang menghambat dalam mengakses pendidikan. Pada dasarnya, atau bahkan sebenarnya, mereka sangat ingin memperoleh pendidikan yang layak. Namun untuk makan saja, mereka (yang mayoritas hidup di jalanan, misalnya) harus berjuang, bertarung di jalanan, untuk sekedar mendapatkan sedikit fulus demi keberlangsungan untuk dapat bertahan hidup. Seharusnya peran pemerintah lebih nyata dalam mengatasi persoalan demikian. Bangsa ini memiliki SDM yang cukup banyak, namun minim kualitas. Itulah persoalannya. Dengan peran pemerintah secara maksimal, di harapkan mampu meningkatkan kualitas SDM tersebut. Sebagai contoh misalnya, pemerintah bisa saja memberlakukan kebijakan free school for all, yaitu sekolah non formal yang gratis dalam pelayanannya kepada masyarakat miskin yang kurang beruntung selama ini. Free school for all dimaksudkan agar mampu menyerap sebanyak-banyaknya warga yang ingin mendapatkan pendidikan dalam segala hal.
Harapan Selanjutnya
Warga yang nantinya telah mendapatkan pendidikan tersebut diharapkan mengalami peningkatan baik secara intelektual (pengetahuan dan wawasan) maupun moralnya. Hal ini demi peningkatan juga kualitas keimanannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, diharapkan masyarakat juga mampu mengaplikasikan ilmu yang telah dicerapnya. Misalnya, ilmu tersebut dapat digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan. Dengan bekerja, dapat menunjukkan bahwa Negara itu kreatif dan produktif. Dengan produktif Negara kita akan bertambah kuat secara ekonomi. Efek pada wilayah ekonomi tersebut tentu pada akhirnya nanti akan berimplikasi terhadap perbaikan kondisi perekonomian Negara. Marilah kita semua berusaha dan berdoa agar semua elemen warga Negara berperan penuh dalam peningkatan kualitas pendidikan bangsa ini, bangsa yang sedang terpuruk, bangsa yang menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik dan mapan (civil society). Dengan keyakin dan usaha, maka kita sampai..
“we can achieve the goal of education”


*Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jurusan Pendidikan Fisika semester II
Ketua EASY dan Staf Redaksi LAPMI AL-Ushuliyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar