Meningkatkan Kreativitas dan Meminimalisir
Gaya Hidup Konsumtif
Oleh: D. Firmansyah*
Perkembangan zaman bukanlah suatu hal yang harus menghilangkan tradisi yang sudah ”membumi” di masyarakat. Kemajuan merupakan hasil kreativitas manusia sebagai makhluk berpikir dan bertindak dalam mengembangkan potensi yang di miliki. Hasil dari kreativitas juga harus dapat menjaga tradisi yang ada sebelumnya, karena merupakan hasil dari kreativitas para pendahulu kita. Meninggalkan tradisi sebelumnya justru dapat membuat kita kehilangan identitas yang sebenarnya.
Pesatnya perubahan menuntut masyarakat mengubah pola hidup menyesuaikan dengan zaman, yang sering kali berakibat kehilangan jati dirinya sendiri. Hal ini sering kita temui pada masyarakat perkotaan, yang lebih banyak mengikuti perkembangan dan budaya pop. Sehingga identitas yang telah dimiliki menjadi terkikis dan pudar demi menyesuaikan dengan zaman.
Kemajuan sosial ekonomi memang mendatangi negeri ini, ditambah masuknya kebudayaan pop (pop culture) yang notabene didominasi kebudayaan Barat. Kebudayaan pop ditandai dengan industrialisasi barang-barang budaya seperti makanan, pakaian dan kesenian Akan tetapi lebih dari itu, kebudayaan jenis ini membawa masyarakat pada fenomena McWorld.
Budaya pop pada saat ini tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan pun terbawa arus dengan gaya hidup seperti itu. Anak muda sekarang lebih banyak meluangkan waktu kosongnya untuk bersenang-senang daripada menggunakannya untuk belajar. Pertanyaanya, seperti apa nasib bangsa ini bila generasi mudanya sudah tidak peduli lagi terhadap masa depannya sendiri? Menurut penulis, ada beberapa hal yang mendasar agar idenditas kita tidak tergadaikan. Pertama, perlunya refleksi terhadap apa yang telah kita lakukan. Kedua, selalu menambah wawasan, melepaskan diri dari kejumudan berfikir dan bertindak, sehingga tidak terjadi stagnasi dalam berfikir. Ketiga, melandaskan semua tindakan dengan keimanan, sehingga ada kontrol yang bersifat transendental.
Perkembangan teknologi juga sangat mempengaruhi pola hidup masyarakat. Pada saat ini budaya silaturahmi dari rumah ke rumah hampir tak terlihat lagi, karena masyarakat tidak menyadari bahwa gaya hidupnya telah terpengaruhi oleh kapitalisme global, yang saat ini telah banyak menuai kritik karena dampaknya mulai terasa baik sosial, ekonomi dan psikologis. Masyarakat saat ini lebih banyak bergaya hidup konsumtif daripada meningkatkan kreativitas yang dimiliki. Mudahnya berkomunikasi melalui ponsel merupakan penyebab hilangnya budaya silaturahmi di masyarakat. Kita hanya duduk di rumah dengan memegang ponsel sudah bisa berkomunikasi dengan seseorang yang jauh sekalipun. Kita harus sadar tidak semua kemajuan itu akan berdampak positif, malah dampak negatifnya lebih besar bila kita mau menyadari hal itu. Gejala seperti inilah yang memerlukan suatu rekayasa kesadaran secara kolektif, sehingga tindakan yang kita lakukan dapat dikontrol bersama.
Kita harus cerdas membaca realitas, kerena kemajuan akan terus berkembang kalau kita hanya menjadi konsumen, maka kretivitas yang kita miliki akan stagnan. Dan kita menjalani hidup dalam ketergantugan pada orang lain. Kalau sudah demikian, kemerdekaan manusia (yang dimiliki setiap individu dirampas oleh orang lain, kita hanya dijadikan budak yang bergantung kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.
* Penulis Adalah Anggota Matrik Jogja,
Mahasiswa Jurusan Tafsir dan Hadis Semester VI,
Kabid PA HMI Kom.Ushuluddin, e-mail:
aku2726@yahoo.com
Selasa, 07 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar